Syarikat Islam Dan Tompunuon Institute Gelar Diskusi, Soroti “Investasi Korporasi Besar, Masyarakat Adat dan Keadilan Lingkungan”

Bolmong Raya Headline Terkini Terpopuler

MANADO,SULUTPOST — Pengurus Cabang Syarikat Islam (SI) Kota Manado dan Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow Timur (KPMIBT) Cabang Manado bersama Tompunuon Institute menggelar Diskusi Publik Persimpangan Jalan dengan mengangkat tema “Investasi Korporasi Besar, Eksistensi Masyarakat Adat dan Keadilan Lingkungan”, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Perwakilan DPD RI di Sulawesi Utara, Jalan TNI, Kecamatan Tikala, Kota Manado, tersebut dihadiri sejumlah aktivis lingkungan hidup, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, akademisi, pemerhati sosial kemasyarakatan, serta jurnalis senior.

Diskusi tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan sekaligus kajian kritis mengenai dampak investasi korporasi besar terhadap keberlangsungan lingkungan hidup, eksistensi masyarakat adat, dan keadilan sosial bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah aktivitas industri dan pertambangan.

Sejumlah pembicara mengulas keterkaitan antara aktivitas di daratan dan kondisi ekosistem laut. Pertambangan, penggundulan hutan, serta berbagai aktivitas manusia di kawasan pegunungan menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang meluas apabila tidak dikelola secara bertanggung jawab.

Persoalan ini dinilai relevan dengan kondisi sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), yang memiliki aktivitas pertambangan dan menghadapi berbagai isu terkait lingkungan hidup serta keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Ridwan Lasabuda Soroti Ketidakhadiran PT ASA

Ketua SI Kota Manado, Dr. Ir. Ridwan Lasabuda, M.Si., mengatakan bahwa Diskusi Publik Persimpangan Jalan merupakan upaya mendorong agar persoalan investasi, keberlangsungan masyarakat adat, dan keadilan lingkungan terus menjadi perhatian bersama.

Menurut Ridwan, dialog terbuka, kajian berbasis data, serta pelibatan masyarakat terdampak merupakan elemen penting untuk membangun pemahaman yang menyeluruh mengenai hubungan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup.

“Dialog yang terbuka, kajian berbasis data, serta pelibatan masyarakat terdampak menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang menyeluruh mengenai hubungan antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup,” jelas Ridwan.

Namun, Ridwan juga menyampaikan kekecewaannya atas ketidakhadiran perwakilan PT Arafura Surya Alam (PT ASA), perusahaan tambang emas yang beroperasi di Kabupaten Boltim.

Ia menjelaskan bahwa pihak perusahaan sebelumnya telah diundang dan menyatakan kesediaan untuk menghadiri diskusi publik tersebut.

“Karena itu, ketidakhadiran pihak perusahaan sangat mengecewakan, terlebih tema yang dibahas berkaitan dengan investasi korporasi besar, keberadaan masyarakat adat, dan keadilan lingkungan,” ujar Ridwan.

Ketidakhadiran pihak perusahaan, menurutnya, membuat ruang dialog yang diharapkan dapat mempertemukan berbagai perspektif menjadi kurang lengkap. Padahal, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar persoalan yang berkembang dapat dibahas secara terbuka dan berimbang.

Hairil Palutungan: Persoalan Lingkungan Harus Dilihat Secara Menyeluruh

Pandangan serupa disampaikan jurnalis senior Hairil Palutungan. Ia menilai kehadiran pihak perusahaan penting untuk membuka ruang dialog yang berimbang, terutama dalam membahas berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat. Sehingga berbagai persoalan yang disoroti masyarakat bisa dibahas secara terbuka dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan.ucap Hairil.

Menurut Hairil, persoalan lingkungan tidak dapat dipandang hanya berdasarkan kondisi di sekitar lokasi aktivitas industri. melainkan dampaknya perlu dikaji dalam konteks yang lebih luas, mulai dari kawasan hutan, daerah aliran sungai (DAS), hingga wilayah pesisir dan laut.

Oleh karena itu, kajian ilmiah dan keterlibatan masyarakat menjadi penting untuk mengidentifikasi persoalan, memahami potensi dampak, serta merumuskan

langkah penanganan yang tepat.

Pendekatan tersebut dinilai diperlukan agar pembahasan mengenai investasi dan lingkungan tidak berhenti pada perdebatan, tetapi turut mendorong lahirnya solusi yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Warga Pemukiman Panang Dusun 5 Berharap Diskusi Digelar Langsung di Boltim

Selain menghadirkan perspektif akademisi dan aktivis, diskusi publik tersebut juga memberikan ruang bagi perwakilan masyarakat yang merasakan langsung kondisi di wilayahnya.

Bayu, perwakilan masyarakat Pemukiman Panang Dusun 5, Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, menyampaikan harapannya agar kegiatan diskusi publik dan kajian ilmiah serupa dapat dilaksanakan langsung di wilayah Boltim.

Ia menggambarkan bahwa kondisi kehidupan masyarakat di desanya masih memprihatinkan. Menurutnya, forum yang melibatkan akademisi, pemerhati lingkungan, aktivis, dan masyarakat perlu diperluas hingga ke wilayah yang menghadapi persoalan tersebut.

Dengan demikian, aspirasi warga dapat didengar secara langsung dan berbagai persoalan yang mereka alami dapat dikaji berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

“Harapan ini menjadi dorongan agar pembahasan mengenai lingkungan hidup dan dampak investasi tidak hanya berlangsung di ruang-ruang diskusi di perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat di wilayah yang menghadapi persoalan tersebut,” harap Bayu.

Ia menilai pelaksanaan diskusi publik di Boltim dapat membuka kesempatan bagi warga untuk menyampaikan pengalaman, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, serta berdialog langsung dengan akademisi, pemerintah, dan pihak perusahaan.

Mendorong Dialog dan Keadilan Lingkungan

Diskusi Publik Persimpangan Jalan menjadi pengingat bahwa pembahasan investasi tidak semata-mata berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan kegiatan usaha. Aspek perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap keberadaan masyarakat adat, serta kondisi sosial masyarakat di sekitar wilayah operasional juga perlu mendapat perhatian.

Ke depan, keterlibatan perusahaan, pemerintah, akademisi, aktivis, dan masyarakat terdampak diharapkan dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas dan mendorong pembahasan berdasarkan data serta fakta lapangan.

Bagi masyarakat Boltim, forum serupa yang dilaksanakan langsung di daerah mereka diharapkan menjadi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendorong perhatian yang lebih serius terhadap persoalan lingkungan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat setempat.

Diketahui dalam diskusi yang digagas oleh SI dan Tompunuon Institute tersebut Nara sumber yang hadir diantara Prof.Dr. Ir. Winda Mingkid, MSc ( analisis daya dukung, dampak lingkungan & resiko pencemaran)

Bayu Damopolii, mewakili masyarakat Kotabunan yang menjelaskan tentang sejarah pertambangan emas di desa Kotabunan dari abad 17 hingga saat ini

Dede Kobandaha selaku Ketua Kerukunan Mahasiswa Bolaang Mongondow Timur Indonesia cabang Manado yang mengulas soal keresahan mengenai dampak sosial & lingkungan dari kegiatan.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *