BOLTIM,SULUTPOST – Ditengah kabar beredar munculnya manuver-manuver gelap yang diduga kuat dilakukan oleh oknum pengusaha tambang ilegal, agar penindakan dan penutupan beberapa lokasi pertambangan emas ilegal, lebih khusus Lokasi Perkebunan Mintu, bisa dibuka kembali. dipastikan, hal itu sulit terjadi serta jauh dari ekspetasi.
Ketegasan penertiban hingga berunjung pada penutupan yang dilakukan Polres Boltim, sama sekali tidak memberikan pertimbangan. dikarenakan, meminimalisir dampak buruk kerusakan yang lebih parah, maupun potensi bencana dikemudian hari, yang bisa merugikan masyarakat.
Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan ketika dihubungi, Kamis (16/7/26), menegaskan, bahwa penutupan yang dilakukan oleh Polres Boltim sudah sesuai prosedure dan seluruh kegiatan dilokasi Mintu dihentikan.
Kapolres Mengatakan, langkah ini diambil Polres Boltim, guna mengantisipasi dampak buruk yang merusak lingkungan, maupun berpotensi besar melahirkan bencana.
Selain menindak aktivitas ilegal tersebut, Kapolres Boltim juga mengingatkan bahwa lokasi itu berada di Daerah aliran sungai dan kawasan tangkapan air yang sangat vital.
“Kami sangat perduli dengan keselamatan saudara-saudara kita di Desa Motongkad. Aktivitas PETI di Mintu telah kami hentikan dan tutup, dikarenakan dampak kerusakan lingkungannya sudah terlihat dan membahayakan warga,” tegas Kapolres Boltim.
Sementara itu, beberapa warga sekitar mengapresiasi keputusan tegas yang diambil Kapolres Boltim tersebut. mereka menilai bahwa perencanaan tata kelola lingkungan yang tidak matang, bakal berisiko melahirkan kerusakan lingkungan, akibat struktur tanah dan tutupan lahan serta pepohonan di kawasan hulu telah dibabat menggunakan alat berat excavator.
Menurut warga, jika hal ini terjadi, dampak langsungnya akan diterima oleh masyarakat Motongkad yang berada di wilayah hilir, serta terancam serangan banjir bandang setiap kali curah hujan tinggi turun, sungai tersebut sudah tidak mampu lagi menampung debit air, diakibatkan adanya aktivitas penambangan yang berlangsung.
“Kasian kalau aktivitas penambangan itu dibiarkan, pohon sudah ditebang, tidak ada lagi asupan serapan air hujan ke pepohonan, tentunya luapan air hujan tersebut akan menuju ke sungai, dan berpotensi besar terjadi bencana banjir,”keluh warga.
Warga minta Gubernur Sulawesi Utara serta Instansi terkait, dapat mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat dalam setiap kebijakan yang diambil, sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi masyarakat.
“Kabar yang kami dengar, bahwa ada upaya-upaya manuver dari oknum orang dekat petingi yang ingin lokasi pertambangan Mintu bisa dibuka kembali. olehnya, kami warga berharap kiranya pak gubernur bisa mengevaluasi ulang titik WPR, sehingga tidak merugikan masyarakat dan ini adalah salah satu bentuk pencegahan dini,”ucap warga.
Warga juga berharap pihak kepolisian di wilayah Boltim berkomitmen untuk terus mengawasi situasi di lokasi tersebut, hal ini guna memastikan keamanan dan keselamatan warga Motongkad senantiasa terjaga.
“Kalaupun mereka mau bertambang, baiknya jangan dilokasi yang rawan akan bencana. karena ini bisa merugikan masyarakat sekitar”harap warga.(**)
